Tampilkan postingan dengan label Tugas Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2014

Cerpen

Pemberian Terindah



“Ibu, bolehkah aku meminta baju baru?” aku menunjukkan selembar halaman mode dari sobekan majalah pembungkus gorengan yang aku beli tadi siang. Saat itu, Ibu baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh berada di luar untuk melakukan pekerjaannya.
Ibu mengambil kertas itu kemudian memperhatikan model baju yang aku inginkan, “Ibu tidak punya uang buat membelinya.”
Aku menghela napas. Sudah aku duga kalau ibu akan merespon permohonanku seperti itu. Dari awal aku juga tidak banyak berharap. Aku hanya berusaha mencoba meminta, siapa tahu saja kali ini ibu akan mengabulkan, tapi ternyata jawabnnya masih sama.
Aku mengambil kertas itu kembali dari tangan ibu kemudian membiarkan ibu beristirahat sementara aku kembali ke kamar dan mengerjakan tugas sekolah.
Ibuku sudah berusia 50 tahun. Meskipun belum memasuki usia sebgai seorang lansia, penampilan Ibu lebih tua dari penampilan ibu-ibu yang seumuran darinya.
*
Ibu bukan seorang direktur, bukan juga seorang pegawai negeri atau karyawan berpenghasilan jauh di atas UMR.  Ibu hanya seorang tukang es keliling.
Kurang dari tiga tahun lalu, Ayah meninggal dunia. Penyakit kanker yang beliau derita tidak bisa disembuhkan hingga akhirnya ayah pergi meninggalkan aku dan ibu. Kejadian itu cukup membuat aku terpukul. Aku yang saat itu bari saja lulus dari bangku SMP tidak dapat merayakan hari kelulusan dengan ayah, laki-laki yang paling aku kasihi di dunia ini.
Sejak kematian ayah, ibu bekerja semakin keras. Bahkan aku jarang sekali bertemu dengan beliau. Pagi-pagi sekali, sebelum aku bangun biasanya ibu sudah berangkat. Sementara kalau aku sudah tidur, saat itulah ibu baru pulang. Terkadang aku bertahan menunggu ibu pulang kalau aku perlu bicara dengan beliau, contohnya seperti malam ini saat aku mengutarakan keinginanku untuk dibelikan sebuah baju baru. Sebuah permintaan bodoh yang mungkin tidak akan terkabul. Jarang sekali anak perempuan dari seorang tukang es keliling bisa mendapatkan baju baru. Sekali setahun pun belum tentu akan dibelikan.
Hmm...andai saja ada yang mau bertukar posisi denganku, aku akan bersedia dengan senang hati.
*
Berkat hasil nilaiku yang selalu bagus setiap tahunnya, aku mendapatkan beasiswa penuh selama tiga tahun yang diberikan oleh sebuah SMA favorit di Jakarta. Kesempatan emas seperti ini tentu saja tidak mungkin aku lewatkan apalagi aku memang  terancam tidak bisa melanjutkan sekolah kalau tidak mendapat beasiswa.
Awalnya, aku merasa senang bisa menjadi salah satu dari sekian banyak siswa yang bersekolah di sini. Tapi nyatanya, aku tidak bisa masuk dalam lingkungan pergaulan mereka. Sampai hari ini, gebap 2 tahun 3 bulan aku mengikuti seluruh kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah tetapi belum ada seorang pun yang bisa berteman dekat denganku. Sebenarnya murid-murid di sini tidak sombong. Tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri, sudah menjadi kebiasaan hampir seluruh pelajar di sini terutama yang cewek selalu membhas berbagai barang bermerek yang mereka beli. Entah itu barang fashion terbaru, gadget, sampai tempat-tempat nongkrong high class yang menjadi favorit mereka. Dengan komunitas high class seperti itu, aku sadar diri kalau anak dari seorang tukang cuci keliling tidak bisa bergaul dengan anak direktur, pemilik perusahaan, atau pekerjaan istimewa lainnya.
“Sila..”
Saat aku sedang membaca buku Fisika pada jam istirahat, Raissa datang ke mejaku sambil membawa sebuah undangan yang langsung diberikan padaku saat gadis cantik berwajah indo itu sudah berdiri di depanku. “Ini pesta sweet seventeen aku. Semua teman-teman seangkatan kita akan datang, jadi kamu juga harus datang,” ujar Raissa sambil tersenyum manis sebelum ia pergi menjauhi mejaku untuk membagikan undangan itu pada teman-teman lainnya.
Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak mencap teman-teman sekolahku sebagai orang-orang sombong. Meskipun mereka punya banyak uang, mereka selalu mengundangku dengan tulus untuk datang ke pesta senilai puluhan juta rupiah yang mereka adakan. Sejak tahun pertama sampai tahun terakhir aku sekolah, sudah puluhan undangan yang aku terima tapi tidak ada satu acara pun yang aku penuhi. Alasannya klasik, aku tidak punya baju, transportasi, dan tidak punya teman yang asik untuk berpesta.
“Untung mama membelikan aku baju saat sedang liburan ke Paris. Aku bisa memakai baju itu,” suara Selena membuyarkan lamunanku. Ternyata di pojokan kelas, seluruh cewek yang ada di kelasku sedang berkumpul dan seperti biasa, mereka membahas barang-barang mahal yang baru saja dibelikan oleh orang tua mereka.
Ya, seluruh cewek di kelas, kecuali aku.
*
“Ibu, kumohon belikan aku baju baru,” aku langsung menghampiri ibu pada malam hari, saat ibu baru saja pulang
Ibu melepas penatnya sambil di atas bangku yang sudah tidak layak pakai lagi.
“Sudah lama aku tidak punya baju baru. Bahkan Natal tahun lalu Ibu juga tidak membelikan baju,” aku mengeluarkan undangan beramplop silver yang Raissa berikan padaku lalu memperlihatkannya pada ibu. “Temanku akan berulangtahun. Aku ingin sekali hadir di pesta itu, tapi aku tidak mungkin datang dengan baju-baju kumal yang ada di kamarku. Belikan aku baju baru, Bu,” tanpa sadar, mataku mulai berkaca-kaca.
Ibu mengambil undangan tersebut, “ Akan Ibu belikan.”
“Ibu serius?!” Aku tersenyum lebar mendengar jawaban ibu. Ini benar-benar di luar dugaanku, aku senang sekali! Saking senangnya aku langsung tertawa girang sambil memeluk ibu dan mengucapkan puluhan kata “terima kasih”.
*
Janji ibu untuk membelikan aku baju baru membuat aku jadi lebih bersemangat. aku tidak minder saat sekumpulan cewek-cewek di kelas sedang membuat forum. Bahkan sekali aku ikut dengan mereka. Meskipun tidak terlalu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan tetapi itu cukup menghibur.
Beberapa kali aku juga berkhayal tentang pesta ulang tahun Raissa. Di pesta yang megah itu, aku datang dengan penampilan yang jauh berbeda dengan penampilanku sehari-hari. Kemudian tamu-tamu yang yang ada di pesta terpesona melihatku, dan pada bagian acara dansa banayk cowok yang ingin berdansa denganku. Kalau membayangkannya, aku jadi tertawa sendiri.
Akhirnya hari itu tiba. Satu hari sebelum ulang tahun Raissa, hari di mana ibu akan menepati janjinya untuk membawakan baju baru yang aku inginkan. 
Malam itu aku menunggu ibu dengan sabar. Jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam saat Ibu datang lalu masuk ke dalam rumah. Aku segera berlari menghampiri ibu lalu mengambil kantong plastik yang ibu pegang.
Seketika senyum riangku berubah menjadi ekspresi kecewa. Aku memperhatikan baju berwarna mencolok dengan motif bunga warna warni dan potongan yang norak. Baju ini lebih pantas disebut dengan daster formal, jauh berbeda dengan gaun malam yang aku inginkan.
“Aku nggak mungkin datang ke pesta dengan baju norak seperti ini!” aku melempar baju baru itu ke lantai sambil berteriak. “Apa Ibu nggak bisa memberikan aku baju yang jauh lebih bagus dari daster seperti ini?! Aku malu, Bu! Teman-teman bisa mengejekku! Mereka bisa berpikir kalau  aku adalah pelayan pesta, bukan tamu!” teriakku sambil menangis.
Ibu berjongkok, mengambil baju yang aku lempar lalu melipatnya tanpa berdiri.
“Aku selalu berusaha jadi anak yang baik! Aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolahku, aku juga selalu mendapat peringkat satu di kelas bahkan menjadi siswa terbaik di sekolah! Teman-temanku, yang tidak sepintar aku bisa dengan mudah mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan! Tapi kenapa Ibu nggak bisa memenuhi keinginanku? Aku nggak minta baju baru setiap bulan, Bu! Bahkan juga tidak setiap tahun!” aku berteriak sekencang-kencangnya kemudian berlari masuk ke dalam kamarku.
Malam itu aku habiskan dengan menangis. Sampai keesokan paginya, aku terbangun dengan mata sembap dan memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah, juga pesta Raissa.
*
Seminggu berlalu sejak hari di mana ibu memberikan aku sebuah baju baru. Sejak malam itu, aku tidak pernah bertemu dengan ibu. Sebenarnya aku sengaja menghindar dari ibu. Aku selalu bangun lebih siang supaya tidak bertemu dengan ibu. Malam harinya pun juga seperti itu.  Aku tidur cepat sebelum ibu pulang.
Pesta ulang tahun Raissa sendiri menajdi topik hangat yang selama satu minggu ini menjadi bahan pembicaraan anak-anak di sekolah. Dari obrolan yang aku dengar, Raissa menghabiskan sekitar seratus juta rupiah untuk pesta ulang tahunnya. Mulai dari menyewa ballroom di hotel berbintang lima, sekaligus katering yang disediakan oleh hotel tersebut yang tentunya dengan koki-koki berkualitas tinggi dengan makanan ala hollywood. Belum lagi gaun malam warna brokenwhite yang dibeli langsung dari Milan sebagai hadiah ulang tahun dari ayahnya.
Sekarang aku benar-benar tidak menyesali keputusanku untuk tidak datang ke acara itu. Kalau aku datang dengan ‘daster formal’ pemberian ibu, aku hanya akan menjadi seorang gembel yang bisa masuk ke dalam hotel berbintang. Memalukan.
*
”Bu, beli esnya ya satu,” suara nyaring seorang anak kecil mengalihkan perhatianku yang siang itu sedang berjalan menuju rumah sepulang sekolah.
Aku cukup terkejut saat melihat lawan bicara anak tersebut. Seorang wanita setengah baya yang tampak lelah dengan baju lusuh dan kulit yang menggosong akibat paparan sinar matahari mendorong gerobak es yang beratnya tidak seringan yang terlihat oleh mata.
Wanita itu adalah ibuku.
Setelah selesai membuat pesanan anak kecil tersebut, ibu segera mendorong gerobak esnya menuju pangkalan selanjutnya di Sekolah Dasar yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ini pertama kalinya aku melihat ibu bekerja, mendorong gerobak es dengan semangatnya yang tidak pernah luntur oleh paparan sinar matahari yang selalu dia dapatkan setiap harinya.
Sebelum ibu meninggalkan pangkalannya lebih jauh, au membuntuti ibu dari jauh secara diam-diam. Aku seakan bisa mendengar hembusan napas ibu  yang terputus-putus, namun ibu tetap semangat mendorong gerobak esnya di  tengah jalan raya yang cukup ramai. Saat jalanan menanjak  ibu harus mendorong gerobak dengan sekuat tenaga. Bisa kubayangkan, aku yang hanya berjalan biasa saja kelelahan harus berjalan menanjak seperti ini, apalagi ibu yang harus mendorong beban yang lumayan berat.
Meski begitu, seolah tidak merasa lelah sedikit pun, ibu tetap melanjutkan pekerjaannya untuk menjajakan dagangannya supaya habis terjual.
Sebenarnya aku ingin segera menghampiri ibu lalu memeluknya, tapi entak kenapa kakiku terasa berat untuk melangkah mendekati ibu. Aku malah menyetop sebuah angkot yang akan membawaku kembali pulang ke rumah.
*
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku yang malam itu sedang belajar sama sekali tidak konsen dengan materi yang sedang aku baca. Aku terus memikirkan ibu, cemas kenapa sampai jam segini ibu belum juga pulang.
Kalau mengingat apa yang kulihat tadi siang, aku benar-benar menyesal. Aku terus memaki diri sendiri, merasa bersalah karena tidak bisa menjadi seorang anak yang baik.
Selang beberapa menit, tiba-tiba mataku tertuju pada baju terusan berwarna mencolok dengan motif bunga warna-warni yang terlipat rapih di atas bangku. Aku langsung terbayang kejadian satu minggu lalu saat ibu memberikan baju itu padaku tapi aku malah melemparnya lalu membentak ibu.
Aku harus mencari Ibu! Ujarku dalam hati. Tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari ke luar dari rumah. Aku terus melangkah, padahal aku sendiri tidak tahu harus mencari ibu ke mana. Semua ekspresi wajah ibu baik saat beliau tersenyum, tertawa, sedih, kecewa, marah, terbayang olehku.
“Ibuuuuuuuuuuu!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya sambil menangis.
Satu jam berlalu, tetapi aku belum menemukan ibu. Aku memutuskan untuk berjalan pulang ke rumah dengan kepala tertunduk dan mata bengkak.
Jagalah Ibumu dengan baik. Buat Ibu bahagia dan merasa bangga padamu. Ayah percayakan itu padamu.
Kalimat yang ayah ucapkan sebelum ayah meninggal itu samar-samar terdengar di telingaku, seolah ayah ada disampingku untuk membisikan kembali kalimat itu.
“Maafkan aku, Ayah,”  ucapku dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar.
Begitu kakiku melangkah memasuki ujung jalan, aku menegakkan kepalaku dan melihat ibu sedang mendorong gerobak es beberapa meter di depanku.
Aku mengucek mata berkali-kali untuk memastikan bahwa yang aku lihat adalah kenyataan. Yang aku lihat adalah Ibuku yang baru saja pulang berjualan.
“Sila? Sedang apa kamu malam-malam begini? Biasanya kamu sudah tidur?” tanya ibu yang kini sudah berdiri tepat di depanku dengan wajah yang penuh keringat. Meski begitu, tidak ada ekspresi lelah yang ibu tunjukkan. Yang ada hanyalah ekspresi yang menggambarkan betapa bersyukur dan semangatnya ibu dalam menjalani kehidupan.
Aku memeluk Ibu dengan erat lalu menangis lega dalam pelukannya. “Maafkan aku Ibu,” bisikku.
*
Sabtu pagi, aku dan ibu berkunjung ke makam ayah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Ibu membelikan seikat bungan mawar merah lalu menancapkan tangkai mawar itu di dekat batu nisan ayah.
Ayahku adalah pria yang sangat beruntung , Ayah memiliki seorang pendamping hidup yang begitu setia  dan hebat, yaitu ibuku!
Hari itu, Ibu memutuskan untuk libur berdagang es karena hampir dua minggu belakangan ini ibu selalu bekerja keras bahkan di hari Sabtu dan Minggu. Tapi hari ini, aku menghabiskan waktu berdua bersama ibu ke makam ayah dengan memakai daster formal pemberian Ibu.
“Jangan seperti Ibu. Ibu tidak sekolah jadi tidak pintar. Ibu terus berdoa agar kamu bisa berjodoh dengan laki-laki yag setia, baik hati dan cerdas,” kata ibu sambil menelusuri jalan. “Belajarlah yang rajin, pertahankan prestasi yang sudah kamu dapatkan supaya nanti setelah dewasa, kamu tidak perlu mengalami hidup seperti sekarang. Kamu harus bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih baik buat anak-anakmu. Jangan hidup seperti Ibu,” lanjut  Ibu sambil tersenyum.
Sepanjang hari  Sabtu itu aku habiskan hanya berdua dengan ibu. Untuk pertama kalinya Ibu mentraktir aku makan di sebuah restoran sederhana dan membelikan aku dress warna putih yang sangat cantik. Meski aku terus-terusan menolak, ibu tetap membelikannya. Kata ibu, inilah hasil kerja sepanjang hari yang telah ibu lakukan, sekaligus sebagai hadiah karena aku telah menjadi anak yang berprestasi.

***

Jenis-Jenis Karangan

1.       Karangan Narasi
Karangan narasi adalah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa yang biasanya disusun  menurut  urutan  waktu. Yang termasuk narasi ialah cerpen, novel, roman, kisah
perjalanan, biografi, otobiografi.

·         Ciri-ciri / karakteristik karangan Narasi
a.       Menyajikan serangkaian berita atau peristiwa
b.      Disajikan dalam urutan waktu serta kejadian yang menunjukkan peristiwa awal sampai akhir
c.       Menampilkan pelaku peristiwa atau kejadian
d.      Latar (setting) digambarkan secara hidup dan terperinci

Contoh karangan narasi :

Minggu, 23 April, Pukul 08.00 pagi, peserta perjalanan ”Susur Sungai Cikapundung” sudah mulai berkumpul di sekretariat KMPA di Sunken Court W–03. Satu jam kemudian, rombongan berangkat menuju Curug Dago, dengan sedikit naik ke arah hulu di mana perjalanan itu dimulai. Tanpa ragu, peserta mulai menyusuri Cikapundung meskipun ketinggian air hampir mencapai sebatas pinggang. Ketinggian air pun meningkat sekitar 50 cm setelah hujan deras mengguyur Bandung hampir sehari penuh kemarin, Sabtu 22 April 2006. Hari tersebut bertepatan dengan Hari Bumi.

Derasnya air Sungai Cikapundung tidak mengecilkan hati para peserta yang mengikuti acara ”Susur Sungai Cikapundung”.  Acara ”Susur Sungai Cikapundung” ini merupakan salah satu acara dari serangkaian kegiatan Pekan Hari Bumi se–ITB yang diadakan oleh Unit Kegiatan KMPA (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) yang bekerja sama dengan PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Masyarakat).  Acara ”Susur Sungai Cikapundung” ini diikuti oleh 24 orang  yang terdiri atas berbagai unit kegiatan ITB seperti PSIK,  KMPA, Teknik Pertambangan, Nymphea, Planologi dan 3 orang pelajar dari SMP Al-Huda dan satu pelajar dari SMK Dago.



2.    Karangan Deskripsi
        
Karangan Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan atau melukiskan sesuatu seakan-akan pembaca melihat, mendengar, merasakan, mengalaminya sendiri.


·         Ciri-ciri / karakteristik karangan deskripsi
a.       Melukiskan atau menggambarkan suatu objek tertentu
b.      Bertujuan untuk menciptakan kesan atau pengalaman pada diri pembaca agar  seolah-olah mereka melihat, merasakan, mengalami atau mendengar, sendiri suatu objek yang  dideskripsikan
c.       Sifat penulisannya objektif karena selalu mengambil objek tertentu, yang dapat berupa  tempat, manusia, dan hal yang dipersonifikasikan
d.      Penulisannya dapat menggunakan cara atau metode realistis (objektif), impresionistis (subjektif), atau sikap penulis


Contoh karangan deskripsi:

Lapangan sekolah kami berada tepat di tengah-tengah gedung sekolah. Di setiap sisi lapangan terdapat taman-taman kecil dengan aneka bunga dan tumbuhan lainnya. Lapangan tersebut berukuran setengah 100 x120 meter. Lumayan luas, bukan? Selain untuk upacara penaikan bendera, kadang kami menggunakan lapangan tersebut untuk bermain basket atau sepak bola. Di sebelah utara, tepatnya di dekat kelas kami, terdapat tiang bendera. Adapun di sebelah timur dan barat terdapat ring basket. Di bagian-bagian tertentu ada lubang yang berguna sebagai pancang tiang untuk net voli atau net sepak takraw.


3.  Karangan Eksposisi
        
Karangan Eksposisi adalah bentuk karangan yang memaparkan, memberi keterangan, menjelaskan,memberi informasi sejelas-jelasnya mengenai suatu hal.
  

·         Ciri-ciri / karakteristik karangan Eksposisi:
a.       Menjelaskan informasi agar pembaca mengetahuinya
b.      Menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (data faktual)
c.       Tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak
d.      Menunjukkan analisis atau penafsiran secara objektif terhadap fakta yang ada
e.      Menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu

Contoh karangan eksposisi:

Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus inluenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian inluenza. Adapun definisi dari berbagai kasusnya adalah sebagai berikut. 

1. Kasus Suspect

Kasus suspect adalah kasus seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temperatur 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau beringus serta dengan salah satu keadaan. Hal ini terjadi biasanya karena seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit flu burung. Kemudian, orang tersebut kontak dengan virus lu burung yang dalam masa penularan. Hal lainnya jika orang yang bekerja pada suatu laboratorium dan sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung.

2. Kasus Probable

Kasus  probable adalah kasus  suspect disertai salah satu keadaan bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus inluenza A (H5N1). Misalnya, test HI yang menggunakan antigen H5N1 dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonial gagal pernapasan atau meninggal dan terbukti tidak adanya penyebab lain.


4.  Karangan Persuasi
     
Karangan Persuasi adalah karangan yang tujuannya untuk membujuk pembaca agar mau mengikuti kemauan atau ide penulis disertai alasan bukti dan contoh konkrit.


·         Ciri-ciri / karakteristik karangan persuasi:
a.       Terdapat himbauan atau ajakan
b.      Berusaha mempengaruhi pembaca 

Contoh karangan persuasi:

Jika senang bepergian, Anda tentunya memiliki banyak persiapan dalam menghadapi liburan ini. Persiapan yang terpenting adalah kesehatan fisik. Anda tidak mungkin dapat berlibur jika terserang penyakit. Oleh karena itulah, kami ciptakan sebuah produk multivitamin terbaik. Selain vitamin A, B Kompleks, dan vitamin C, multivitamin ini pun diperkaya oleh vitamin D yang dapat menguatkan tulang, serta vitamin E agar kulit Anda senantiasa sehat. Dengan tubuh yang sehat dan bugar, berbagai aktivitas dapat Anda lakukan dengan bersemangat. Jika Anda ingin senantiasa sehat dan mendapatkan khasiat dari Xavier-C, segera kunjungi apotek terdekat di kota Anda. Dijamin, Anda tidak akan pernah merasa kecewa. 



5. 
Karangan Argumentasi


Karangan Argumentasi adalah karangan yang isinya bertujuan meyakinkan atau mempengaruhi pembacaterhadap suatu masalah dengan mengemukakan alasan, bukti, dan contoh nyata.
  
·         Ciri-ciri / karakteristik karangan Argumentasi:
a.       Berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan pengarang sehingga    kebenaran itudiakui oleh pembaca
b.      Pembuktian dilengkapi dengan data, fakta, grafik, tabel, gambar
c.       Dalam argumentasi pengarang berusaha mengubah sikap, pendapat atau pandangan pembaca
d.      Dalam membuktikan sesuatu, pengarang menghindarkan keterlibatan emosi dan 
menjauhkan subjektivitas
e.      Dalam membuktikan kebenaran pendapat pengarang, kita dapat menggunakan bermacam-macam pola pembuktiaan.

Contoh karangan argumentasi:



Dengan perubahan pola pada program ospek, yakni dengan meninggalkan pola perpeloncoan, tentunya masyarakat lebih banyak yang setuju. Lain halnya terhadap ospek yang disertai hukuman-hukuman dengan alasan menguji mental, menempa kekuatan isik, sumpah serapah, atau mengenakan atribut  lucu-lucuan, mungkin akan lebih banyak yang menolaknya. Bagi para orangtua, misalnya –di samping bangga dan bahagia– sudah cukup berat dan repot tatkala anaknya diterima di perguruan tinggi. Mereka bukan saja harus menyediakan dana cukup besar untuk bayar uang kuliah, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan lain seperti uang kos dan biaya sehari-hari bagi mereka yang berasal dari luar kota. Jika dibebani lagi harus beli ini itu untuk kegiatan ospek, rasanya beban tersebut semakin menumpuk. Lebih kecewa dan sakit lagi jika anaknya tiba-tiba harus pulang karena jadi korban kelalaian mahasiswa seniornya. Sekali lagi, kita patut bersyukur karena tampaknya kegiatan ospek di kampus-kampus sudah ada perubahan ke arah yang lebih bermakna positif. Sudah saatnya kita meninggalkan perpeloncoan. Hidup ini sudah begitu keras untuk diperjuangkan, jangan ditambah lagi dengan kekerasan yang lain.

Sumber : 
http://semuapelajaransekolah.blogspot.com/2013/02/jenis-jenis-karangan-menurut-pengertian.html

Minggu, 10 November 2013

Artikel Ekonomi berpola Deduktif dan Induktif


  • Induktif 


Indonesia Masih Terus Membangun Perekonomiannya

Indonesia masih terus berusaha membangkitkan perekonomiannya ke kondisi yang lebih baik. Banyak usaha yang dilakukan, mulai dari menekan jumlah barang impor yang mengalahkan pemakaian barang lokal. Pemerintah juga meluaskan lapangan pekerjaan, agar sumber  daya manusia (SDM) dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pembangunan negara. Masalah pengangguran di Indonesia masih menjadi masalah ekonomi utama yang sampai saat ini belum bisa diatasi. Sampai tahun 2008, tingkat pengangguran terbuka masih berada pada kisaran 9% dari jumlah angkatan kerja berada pada kisaran 9 juta orang. Sebagaimana kita ketahui bahwa terjadi perubahan patern perekonomian paska krisis dari usaha yang padat karya ke usaha yang lebih padat modal. Akibatnya pertumbuhan tenaga kerja yang ada sejak tahun 1998 s/d 2004 terakumulasi dalam meningkatnya angka pengangguran. Di lain sisi, pertumbuhan tingkat tenaga kerja ini tidak diikuti dengan pertumbuhan usaha (investasi) yang dapat menyerap keberadaannya. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia yang pada puncaknya di tahun 2004 mencapai tingkat 10% atau sekitar 11 juta orang.

Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Selain itu, pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sektor pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan turun. Tujuan akhir pembangunan ekonomi suatu negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran di suatu negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan.

NB : Yang dicetak tebal merupakan kalimat utama dari artikel tersebut yang mendakan artikel tersebut berpola induktif.

  • Deduktif 


Indikator Ekonomi Makro

Ada beberapa indikator ekonomi makro yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi selama satu periode tertentu. Pertama, Indeks Harga Konsumen yang merupakan angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli konsumen dalam satu periode tertentu. Angka IHK diperoleh dengan menghitung harga-harga barang dan jasa utama yang dikonsumsi masyarakat dalam satu periode tertentu. Di Indonesia, perhitungan IHK dilakukan mempertimbangkan sekitar beberapa ratus komoditas pokok. Untuk lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya, perhitungan IHK dilakukan dengan melihat perkembangan regional, yaitu dengan mempertimbangkan tingkat inflasi kota-kota besar, terutama ibukota provinsi-provinsi di Indonesia. Dilihat dari cakupan komoditas yang dihitung IHK kurang mencerminkan tingkat inflasi yang sebenarnya. Tetapi IHK sangat berguna karena menggambarkan besarnya kenaikan biaya hidup bagi konsumen, sebab IHK memasukkan komoditas-komoditas yang relevan (pokok) yang biasanya dikonsumsi masyarakat.

Kedua, Indeks Harga Perdagangan Besar  yang disebut juga sebagai indeks harga konsumen (producer price index). IHPB menunjukkan tingkat harga yang diterima produsen pada berbagai tingkat produksi. Ketiga, Indeks Harga Implisit yang perhitungan inflasinya dilakukan dengan menghitung perubahan angka indeks yang sama halnya dengan dua indikator sebelumnya. Walaupun sangat bermanfaat, IHK dan IHPB memberikan gambaran laju inflasi yang sangat terbatas. Sebab, dilihat dari metode perhitungannya, kedua indikator tersebut hanya melingkupi beberapa puluh atau mungkin ratus jenis barang jasa, dibeberapa puluh kota saja. Padahal dalam kenyataan, jenis barang dan jasa yang diproduksi atau dikonsumsi dalam sebuah perekonomian dapat mencapai ribuan, puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu jenis. Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya, ekonom menggunakan Indeks Harga Implisit (GDP Deflator), disingkat IHI.

NB : Yang dicetak tebal merupakan kalimat utama dari artikel tersebut yang mendakan artikel tersebut berpola deduktif.

Sumber :
Pola Induktif : 
http://karinadevianta.blogspot.com/search/label/Perekonomian%20Indonesia
http://ilmubloggersyahdan.blogspot.com/2013/10/pengertian-dan-contoh-kalimat-paragraf.html
Pola Deduktif :
Rahardja, Pratama dan Mandala Manurung. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kamis, 07 November 2013

Kosa Kata Ekonomi

A
Agen : perantara perdagangan yang mana perusahaan menjualkan barangnya di daerah tertentu
Apresiasi (Apreciation) : menguatnya nilai tukar rupiah atau mata uang lainnya karena mekanisme pasar.
Anggaran  Berimbang : suatu anggaran yang disusun sedemikian rupa sehingga total belanja sama dengan total penerimaan
Anggaran Structural: anggaran yang terjadi pada saat perekonomian beroperasi pada output potensial
Anggaran Siklikal : anggaran yang mengukur efek dan siklus bisnis terhadap anggaran
Angkatan Kerja : jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu
Average Product (produk rata-rata) : produk total atau output total dibagi oleh kuantitas dan satu jenis input.

Average Revenue (penerimaan rata-rata) : penerimaan total dibagi oleh jumlah unit total yang dijual yaitu penerimaan perunit.

B
Bank : badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkan kembali kepada masyarakat
Bank Central (central bank) : bank yang fungsi utamanya adalah mengatur jumlah uang beredar dalam perekonomian (to manage nations money supply)
Bank Komersial : sebuah lembaga perantara keuangan yang fungsi utamanya adalah menerima simpanan giro
Bank Money : uang yang diciptakan oleh sistem perbankan khususnya uang giral yang ditimbulkan oleh ekspansi berganda dari cadangan bank
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) : bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran
Bank Umum : bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya memberi jasa dalam lalu lintas pembayaran
Bekerja Penuh (employed) : orang-orang yang bekerja penuh atau jam kerjanya mencapai 35 jam per minggu
Biaya Oportunitas : nilai dari kesempatan penggunaan suatu barang ekonomi berikutnya, atau nilai dari alternatif yang dikorbankan
Budget Line (garis anggaran) : garis disuatu grafik yang sumbu-sumbunya menggambarkan kombinasi barang yang bisa dibeli oleh konsumen
Budget Surplus (surplus anggaran) : kelebihan penerimaan pemerintah terhadap pembelanjaan pemerintah
Bunga : pendapatan yang dibayarkan kepada mereka yang meminjamkan uang
Bursa Efek : tempat diperjualbelikan efek-efek atau tempat bertemunya pihak yang menawarkan dan pihak yang memerlukan dana jangka panjang
Bursa Komoditas : tempat dipamerkannya contoh barang-barang produksi yang diperjualbelikan
Bursa Valuta Asing : suatu tempat kegiatan usaha yang memperdagangkan berbagai jenis mata uang asing seperti bank-bank devisa dan money changer

C
Capital Loss : harga jual yang lebih rendah dari harga nominal
Credit (kredit) : dalam teori moneter, penggunaan dana orang lain sebagai imbalan dari janji akan membayar di kemudian hari
Cadangan Bank : bagian atas simpanan masyarakat di bank yang harus disimpan di khasanah atau di bank sentral tanpa menerima bunga
Cadangan Minimum : jumlah cadangan yang dihitung sebagai persentasi dari keseluruhan tabungan giral yang diwujudkan oleh suatu bank perdagangan, yang perlu disediakan oleh bank tersebut
Cadangan Rasional : menyelesaikan kesulitan likuiditas luar negeri/neraca pembayaran luar negara
Cartel (kartel) : asosiasi produsen dalam suatu industri yang bertujuan membatasi atau mencegah persaingan antar perusahaan dalam industri
Cateris Paribus : sebuah kondisi artificial yang diangkat oleh para ahli ekonomi untuk secra terpisah, mengamati hubungan antara dua variabel ekonomi
Consumption (konsumsi) : jumlah seluruh pengeluaran perorangan atau negara untuk barang-barang konsumsi selama satu periode tertentu
Common Stock (saham biasa) : instrumen keuangan yang mencerminkan
Kepemilikan dan hak suara dalam suatu perseroan

D
Depresiasi (depreciation) : gejala melemahnya nilai tukar mata uang (rupiah) karena kekuatan pasar
Devaluasi (devaluation) : penurunan nilai tukar rupiah yang berdasarkan keputusan pemerintah
Dana Likuid : harta keuangan yang bebas resiko dan langsung dapat dikonversi menjadi uang
Dana Uang : instrumen keuangan jangka pendek yang amat likuid yang dimiliki oleh investor di mana suku bunganya tidak diatur
Defisit Anggaran Belanja : belanja pemerintah untuk barang, jasa, dan pembayaran transfer yang melebihi penerimaannya dari pajak dan sumber pendapatan
Deflasi : penuruna tingkat harga secara umum dan kontinu (berkelanjutan)
Deposito Berjangka : dana yang disimpan di bank dan hanya dpat ditarik kembali setelah suatu jangka waktu tertentu
Disinflasi : proses penurunan tingkat inflasi yang tinggi
Disposible Income (pendapatan bebas) : pendapatan yang sudah siap untuk dibelanjakan
Distribusi : semua kegiatan yang ditujukan untuk menyalurkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen

E
Efisiensi : penggunaan sumber daya ekonomi yang menghasilkan tingkat kepuasan maksimum yang mungkin pada input tertentu
Ekspor Netto : nilai ekspor barang dan jasa dikurangi nilai impor barang dan jasa

F
Fungsi Konsumsi : skedul yang mengaitkan jumlah konsumsi dengan pendapatan yang dapat dibelanjakan
Fungsi Tabungan : skedul atau tabel yang memperlihatkan jumlah tabungan yang bersedia ditabung oleh rumah tangga atau negara, pada setiap tingkat pendapatan
Fungsi Uang : menerangkan tentang berbagai peranan yang dapat dijalankan oleh uang dalam melancarkan dan mempertinggi efisiensi kegiatan ekonomi

G
GNP Nominal : nilai dari seluruh jasa dan barang jadi yang diproduksi dalam kurun waktu tertentu oleh suatu negara pada pasar
GNP Potensial : tingkat GNP maksimum yang dapat dipertahankan pada suatu tingkat teknologi dan populasi tertentu
GNP Riil : GNP nominal yang telah dikoreksi dengan faktor inflasi, yaitu GNP Nominal/deflator GNP

H
Hiperinflasi (hyper-inflation) : inflasi yang lebih besar atau sama dengan 100% per tahun
Halangan Perdagangan : berbagai bentuk peraturan yang mengatur perdagangan di antara satu negara dengan negara lain yang sifatnya mengurangi arus kemasukan barang dari luar negara
Halangan Bukan-Tarif : hamabatan dalam perdagangan luar negeri yang bukan berbentuk paja impor atau kouta, tetapi dalam bentuk peraturan-peraturan yang mengurangi kecenderungan untuk mengimpor

I
Indeks Harga Konsumen (consumer price index) : angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli konsumen dalam suatu periode tertentu
Inflasi (inflation) : kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum da terus menerus
Inflasi Diimpor : kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga barang impor yang digunakan sebagai bahan mentah produksi dalam negeri
Inflasi Dorongan Biaya  (cost-push inflation) : inflasi yang terjadi karena kenaikan biaya produksi, biasanya menyebabkan penawaran agregat menurun
Inflasi Merayap : proses kenaikan harga-harga yang lambat jalannya
Inflasi Spiral : inflasi yang proses kenaikan harga-harga  yang lambat tetapi ini lebih dilihat dari caranya harga-harga tersebut naik
Inflasi Tekanan Pemerintah (demand-pull inflation) : inflasi yang terjadi karena dominannya tekanan permintaan agregat
Investasi : keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi meningkatkan kemampuan menambah/menciptakan nilai hidup (penghasilan atau kekayaan) di masa mendatang
Investasi Portofolio : investasi dalam bentuk membeli harta-harta keuangan seperti saham dan bond (obligasi)

J
Jumalah Uang Beredar : nilai keseluruhan uang yang berada di tangan masyarakat

K
Kebijakan Fiskal  : kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memgarahkan perekonomian ke kondisi yang lebih baik atau diinginkan dengan cara mengubah-ubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah
Kebijakan Moneter (monetary policy): kebijakan yang bertujuan mengarahkan ekonomi makro ke kondisi yang diinginkan (yang lebih baik) dengan mengatur jumlah uang beredar
Kebijakan Moneter Ekspansif : kebijakan yang dilakukan dengan cara menambah jumlah uang beredar dalam masyarakat
Kebijakan Moneter Kuantitatif : kebijakan moneter yang dijalankan oleh bank sentral yang bertujuan untuk mempengaruhi penawaran uang atau suku bunga
Kebijakan Pendapatan : setiap campur tangan langsung oleh pemerintah untuk mempengaruhi pembentukan upah dan tenaga kerja
Kebijakan Perdagangan : berbagai pembatasan arus bebas barang dan jasa antar negara
Kebijakan Uang Ketat (kebijakan moneter kontraktif) : kebijakan yang dilakukan dengan cara mengurangi jumlah uang beredar dalam masyarakat
Keunggulan Komparatif : kemampuan suatu negara untuk memproduksi komoditi tertentu dengan biaya oportunitas produk-produk lain yang lebih rendah dari negara lain
Konsumsi : tindakan menggunakan komoditi baik barang maupun jasa
Konsumsi Rumah Tangga (pengeluaran konsumsi) : nilai perbelanjaan yang dilakukan rumah tangga untuk membeli barang dan jasa dalam satu tahun tertentu
Kuota Impor : batas yang ditetapkan oleh pemerintah mengenai kuantitas komoditi asing yang masuk ke negeri itu selama periode tertentu
Kurs : menunjukkan banyaknya uang dalam negeri yang diperlukan untuk membeli satu unit valuta asing
Kurva Permintaan Agregat : menghubungkan jumlah total output yang akan diminta dengan tingkat harga output itu

L
Laju Peredaran Uang : kekerapan uang bertukar tangan dalam satu tahun tertentu
Lembaga Dana Pensiun : lembaga yang menawarkan jasa berupa persiapan dana pensiun
Lembaga Keuangan : lembaga yang kegiatan utamanya menghimpun dan menyalurkan dana dengan motif mendapatkan keuntungan, fungsi utamanya sebagai perantara pihak-pihak yang membutuhkan uang modal (pemakai dana) dengan pihak-pihak yang memilikinya (pemilik dana)
Lembaga Keuangan Informal : lembaga yang menjalankan fungsi lembaga keuangan namun tidak berlandaskan hukum
Liquidity (likuiditas) : tingkat kemudahan dan kepastian suatu harta untuk dicairkan menjadi alat tukar dalam sistem ekonomi
Lompang Deflasi : perbedaan antara pengeluaran agregat yang perlu dicapai agar perekonomian dapat mencapai kesempatan kerja penuh dengan pengeluaran agregat yang sebenarnya tercapai pada kesempatan kerja penuh

M
Marginal Efficiency of Capital (MEC) : tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) dari setiap tambahan barang modal
Market (pasar) : tempat berlangsungnya negoisasi pertukaran komoditi, antara penjual dan pembeli
Market Failure (kegagalan pasar) : kegagalan sistem pasar bebas untuk mencapai efisiensi alokatif yang optimal atau untuk mencapai tujuan sosial, karena timbulnya eksternalitas, gangguan pasar atau ketidaksempurnaan pasar
Markup: jumlah yang ditambahkan pada biaya untuk menentukan harga
Merkantilisme (merchantilism) : ajaran atau paradigma yang berkeyakinan bahwa perekonomian suatu negara makin makmur bila mampu memaksimalkan surplus perdagangan
Minimum Wages (upah minimum) : tingkat minimum yang wajib dibayarkan kepada buruh/tenaga kerja dalam pekerjaan yang tercakup oleh ketentuan tersebut
Mobilitas Faktor Produksi : suatu keadaan apabila faktor-faktor produksi dapat dipertukarkan penggunaannya
Modal : faktor produksi yang terdiri dari semua perlengkapan pabrik untuk proses produksi selanjutnya
Modal Ekuitas : dana yang disediakan oleh para pemilik perusahaan yang pengembaliannya pada laba perusahaan
Motivasi Spekulasi (speculation motive) : motivasi menyimpan uang untuk memperoleh keuntungan

N
Neraca Jasa : neraca yang mencatat ekspor dan impor jasa selama satu periode tertentu
Neraca Lancar (current account) : bagian BOP yang memberi gambaran ringkas tentang transaksi barang dan jasa yang diproduksi selama periode setahun atau kurang
Neraca Modal (capital account)  : bagian dari BOP yang mencatat pemebelian dan penjualan aset-aset financsial seperti surat-surat berharga, deposito perbankan dan juga investasi langsung
Neraca Pembayaran (balance of payment) : catatan statistik (ringkas) tentang transaksi ekonomi internasional yang dilakukan oleh penduduk suatu negara (perekonomian) dengan penduduk negara (perekonomian) lainnya
Neraca Perdagangan (balance of trade) : neraca yang mencatat transaksi ekspor dan impor barang-barang selama satu periode
New Classical Economics : teori ekspansi rasional berpendapat bahwa semua jenis pasar beroperasi secara efisien dengan cepat membuat penyesuaian-penyesuaian ke atas perubahan yang berlaku
Nilai Kapitalisasi : nilai harta yang diukur berdasarkan nilai sekarang atau arus pendapatan yang diharapkan akan diperoleh
Nilai Tukar Riil : harga relatif dari barang-barang kedua negara, yang menyatakan tingkat di mana kita dapat memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain

O
Operasi Pasar Terbuka : salah satu alat dalam menjalankan kebijakan moneter kuantitatif, yang bertujuan utnuk mempengaruhi penawaran uang dengan cara bank sentral melakukan penjualan atau pembelian surat jaminan dalam pasaran uang atau pasaran modal

P
Pajak : pungutan yang dikenakan pemerintah ke atas keuntungan perusahaan, pendapatan individu dan nilai jual suatu barang termasuk barang yang di ekspor dan di impor
Pajak Progressif : pajak yang persentasinya semakin tinggi apabila pendapatan semakin tinggi
Pajak Proporsional : pajak yang persentasinya tetap pada berbagai tingkat pendapatan
Pajak Regresif : pajak yang persentasinya menurun apabila pendapatan meningkat
Pajak Tak Langsung : pajak (pungutan) pemerintah yang dikenakan ke atas barang dan jasa pada ketika barang tersebut dijual kepada pihak lain seperti konsumen, atau diimpor dari luar negara
Pasar Barang : pasar di mana output barang dan jasa dijual
Payback Period : waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat dikembalikan atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas
Pegadaian : lembaga perkreditan berdasarkan hukum gadai. Lembaga pegadaian pada prinsipnya memberi bantuan keuangan dengan jaminan aset peminjam, yang diserahkan kepada lembaga pegadaian
Pembayaran Pindahan : pendapatan yang diperoleh seseorang (atau rumah tangga secara keseluruhan) tanpa rumah tangga tersebut memberikan jasa untuk memperoleh pendapatan tersebut
Penawaran Uang : jumlah uang yang terdapat dalam perekonomian dan terdiri dari uang dalam peredaran dan tabungan giral dan disingkat sebagai MI
Pendapatan Disposible : pendapatan yang sebenarnya diperoleh rumah tangga dan dapat digunakan untuk membeli barang atau ditabung
Pendapatan Pribadi : semua jenis pendapatan termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan sesuatu kegiatan apapun yang diterima oleh penduduk suatu negara
Pengaruh Pendesakan : penurunan pengeluaran perorangan yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga yang mengikuti kebijakan fiskal
Pengangguran Dukalara : pengangguran yang terpaksa diterima oleh seseorang, walaupun sebenarnya dia masih ingin bekerja
Pengangguran Musiman (seasonal unemployment) : pengangguran yang berkaitan erat dengan fluktuasi kegiatan ekonomi jangka pendek, terutama terjadi di sektor pertanian
Pengangguran Siklis (cyclical unemployment) : pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan dalam tingkat kegiatan perekonomian
Pengangguran Sukarela : pengangguran yang bersifat sementara, karena seseorang ingin mencari pejerjaan yang lebih baik atau lebih cocok
Pengeluaran (pembelanjaan) Pemerintah : pemebelanjaan pemerintah ke atas barang-barang modal, barang konsumsi, dan ke atas jasa-jasa
Pengganda Anggaran Berimbang : perubahan pendapatan dibagi dengan perubahan pembiayaan pengeluaran pemerintah yang dibiayai pajak
Peningkatan Modal : penambahan modal pada proses produksi sehingga meningkatkan ratio modal terhadap tenaga kerja
Perangkap Kecairan : suatu keadaan di sektor keuangan di mana permintaan uang telah menjadi elastis sempurna pada suku bunga yang sangat rendah sehingga pertambahan dalam penawaran uang tidak akan mewujudkan lagi pengurangan dalam suku bunga
Perekonomian Dua Sektor : suatu model dalam analisis keseimbangan pendapatan nasional yang memisahkan hanya perusahaan-perusahaan dan rumah tangga saja yang menjalankan kegiatan ekonomi
Perekonomian Terbuka (Ekonomi Empat Sektor) : suatu model ekonomi yang membedakan pelaku kegiatan ekonomi kepada empat golongan yaitu perusahaan, isi rumah, pemerintah dan sektor luar negeri
Perkiraan Neraca Pembayaran : ringkasan catatan transaksi suatu negara yang menyangkut pembayaran/penerimaan dengan valuta asing
Permintaan Agregat : total permintaan barang dan jasa dalam suatu perekonomian selama satu periode tertentu
Perubahan dalam Penawaran : kenaikan/penurunan kualitas yang ditawarkan pada tiap harga yang mungkin dari suatu komoditi
Perubahan Permintaan : kenaikan/penurunan kualitas yang diminta pada tiap harga yang mungkin dari suatu komoditi
Perusahaan : suatu unit yang menggunakan faktor-faktor produksi dan menghasilkan barang dan jasa untuk dijual kepada yang lain
Perusahaan Asuransi : prusahaan yang menawarkan produk jasa seperti perlindungan finansial untuk menghadapi berbagai hal yang kurang menguntungkan
Perusahaan Investasi : perusahaan yang menawarkan produk diversifikasi. Yang dimaksud dengan diversifikasi adalah peningkatan kemampuan membeli atau memiliki berbagai jenis atau tipe aset finansial
Productivity (produktivitas) : produksi output yang dihasilkan oleh setiap sumberdaya input; sering digunakan untuk menunjukkan produktivitas tenaga kerja yang diukur oleh output per jam kerja/output per pekerja
Private Cost (biaya swasta) : nilai dari alternatif pemggunaan sumberdaya terbaik yang digunakan dalam produksi seperti yang dinilai produsen
Private Sector (sektor swasta) :  bagaian dari perekonomian yang aktivitas produksi barang dan jasanya dimiliki serta dilakukan oleh unit swasta, misalnya rumah tangga dan perusahaan 
Produk Homogen : setiap unit produk yang tampak serupa dengan unit lainnya
Produk Unik : produk yang cukup berbeda terhadap lainnya dalam satu industri 

Q
Quantity Exchange (kuantitas pertukaran) : jumlah komoditi yang dibeli rumah tangga sama dengan jumlah komoditi yang dijual oleh produsen pada periode waktu tertentu

R
 Rasio Konsentrasi : sebagian dari total penjualan pasar yang dikendalikan oleh sebagian perusahaan industri besar
Rasio Modal Output : rasio antara modal terhadap nilai output tahunan yang diproduksi oleh modal itu
Rasio Modal Produksi : suatu angka yang menunjukkan besarnya modal yang diperlukan untuk menghasilkan barang bernilai satu rupiah
Rate of Inflation (laju inflasi) : tingkat persentase kenaikan dalam beberapa indeks harga dari satu periode ke periode lainnya
Rate of Return (tingkat hasil pengembalian) : rasio antara pengembalian modal yang diperoleh perusahaan terhadap total modal yang diinvestasikan
Ratio Laverage : rasio laporan keuangan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai hutang
Relative Price (harga relative) : rasio harga nominal suatu komoditi terhadap harga nominal komoditi lainnya yaitu rasio  dari dua harga mutlak
Required Reserve (cadangan wajib) : jumlah minimum cadangan bank yang harus menurut ketentuan dipegang oleh bank, baik dalam bentuk uang kartal maupun dalam bentuk deposito di bank sentral
Rekening Giro : simpanan di bank yang dapat ditarik sesuai permintaan dan dapat dipindahbukukan dengan cek
Rentabilitas Ekonomi : kemampuan perusahaan utnuk menghasilkan laba dengan memanfaatkan seluruh modal yang dimiliki
Revenue Sharing : pengembalian dari penerimaan yang diperoleh pemerintah pusat ke pemerintah daerah, misalnya untuk sumbangan umum atau bantuan yang tidak ada kategorinya
Risk Premium (premi risiko) : pengembalian terhadap modal yang diperlukan untuk mengkompensasi risiko kehilangan modal

S
Schedule Permintaan : tabel yang menunjukkan hubungan anatar kuantitas komoditi yang kan dibeli konsumen selama periode tertentu
Sertifikat Deposito : deposito berjangka yang dapat dinegosiasikan dan mempunyai suku bunga yang lebih tinggi daripada deposito berjangka biasa
Setengah Menganggur (underemployed) : mereka yang bekerja, tetapi belum dimanfaatkan secara penuh. Artinya jam kerja mereka dalam seminggu kurang dari 35 jam
Sirklus Ekonomi : pola jangka panjang fluktuasi tingkat kegiatan ekonomi yang teratur
Sirkulasi Aliran Pendapatan : suatu bagan atau grafik yang memberikan gambaran tentang aliran pendapatan, aliran pengeluaran dan aliran keuangan lain yang berlaku dalam perekonomian
Sisa Anggaran : selisih antara total pendapatan dengan total pengeluaran pemerintah
Sistem Bank : kumpulan institusi keuangan yang terdiri dari bank perdagangan dalam seluruh perekonomian dan bank sentral
Sistem Barter : sistem pertukaran yang berlaku dalam masyarakat di mana uang tidak digunakan dalam pertukaran dan oleh karenanya barang yang dijual harus ditukar dengan barang lain yang sama nilainya
Sistem Ekonomi Kapitalis : sistem ekonomi di mana kepemilikan modal terutama dikuasai oleh swasta dan bukan oleh pemerintah
Skala Ekonomis : penurunan biaya per unit output yang dihasilkan dari ekspansi output
Stagnasi : kondisi di mana tingkat pertumbuhan ekonomi sekitar nol persen per tahun , jumlah output relatif tidak bertambah
Stock Market (bursa saham) : suatu pasar yang terorganisasi tempat saham serta obligasi dibeli dan dijual disebut juga sebagi pasar surat berharga
Stok Barang Modal : jumalah barang modal dalam suatu perekonomian, pada satu saat tertentu
Suku Bunga : presentasi pendapatan yang diterima oleh para penabung dari tabungan uang yang disisihkannya
Surat Utang Bank : kertas berharga yang diterbitkan bank-bank komersial
Surplus Neraca Pembayaran : situasi di mana penerimaan pada transaksi berjalan dan neraca modal melebihi pembayaran
Syarat Perdagangan : rasio diantara indeks harga-harga barang yang diekspor dengan indeks harga-harga barang yang diimpor, yang dinyatakan dalam persen

T
Tabungan : penyimpanan uang dalam bank perdagangan/institusi keuangan lain yang dapat diambil melalui ATM atau hadir sendiri di institusi keuangan yang menyimpan uang tersebut
Tabungan Giral  : tabungan dalam bentuk perdagangan yang dapat diambil oleh pemiliknya dengan menggunakan cek
Tarif Advalorem : pajak impor yang dikira berdasarkan harga barang yang diimpor
Teori Keuangan : pandangan ahli ekonomi terkemuka yang menerangkan hubungan diantara penawaran uang dengan harga dan pendapatan nasional dan pandangan-pandangan lain mengenai suku bunga, sistem keuangan dan institusi keuangan
Teori Sisa Tunai : teori keuangan yang dikemukakan oleh ahli ekonomi dari Cambridge (yaitu oleh Marshall)  yang pada hakiktanya berkeyakinan bahwa pertambahan penurunan uang akan menaikkan harga-harga yang sama tingkatnya dengan kenaikan penawaran auang
Tingkat Pengangguran : rasio diantara jumlah pengangguran dengan jumlah tenaga kerja pada suatu waktu tertentu dan dinyatakan dalam persen

Sumber : 
Rahardja, Pratama dan Mandala Manurung. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Rahardja, Pratama dan Mandala Manurung. 2010. Teori Ekonomi Mikro, Suatu Pengantar. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sukirno, Sadono. 2008. Makro Ekonomi, Teori Pengantar.Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2009. Mikro Ekonomi, Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.