Jumat, 03 Januari 2014

Cerpen

Pemberian Terindah



“Ibu, bolehkah aku meminta baju baru?” aku menunjukkan selembar halaman mode dari sobekan majalah pembungkus gorengan yang aku beli tadi siang. Saat itu, Ibu baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh berada di luar untuk melakukan pekerjaannya.
Ibu mengambil kertas itu kemudian memperhatikan model baju yang aku inginkan, “Ibu tidak punya uang buat membelinya.”
Aku menghela napas. Sudah aku duga kalau ibu akan merespon permohonanku seperti itu. Dari awal aku juga tidak banyak berharap. Aku hanya berusaha mencoba meminta, siapa tahu saja kali ini ibu akan mengabulkan, tapi ternyata jawabnnya masih sama.
Aku mengambil kertas itu kembali dari tangan ibu kemudian membiarkan ibu beristirahat sementara aku kembali ke kamar dan mengerjakan tugas sekolah.
Ibuku sudah berusia 50 tahun. Meskipun belum memasuki usia sebgai seorang lansia, penampilan Ibu lebih tua dari penampilan ibu-ibu yang seumuran darinya.
*
Ibu bukan seorang direktur, bukan juga seorang pegawai negeri atau karyawan berpenghasilan jauh di atas UMR.  Ibu hanya seorang tukang es keliling.
Kurang dari tiga tahun lalu, Ayah meninggal dunia. Penyakit kanker yang beliau derita tidak bisa disembuhkan hingga akhirnya ayah pergi meninggalkan aku dan ibu. Kejadian itu cukup membuat aku terpukul. Aku yang saat itu bari saja lulus dari bangku SMP tidak dapat merayakan hari kelulusan dengan ayah, laki-laki yang paling aku kasihi di dunia ini.
Sejak kematian ayah, ibu bekerja semakin keras. Bahkan aku jarang sekali bertemu dengan beliau. Pagi-pagi sekali, sebelum aku bangun biasanya ibu sudah berangkat. Sementara kalau aku sudah tidur, saat itulah ibu baru pulang. Terkadang aku bertahan menunggu ibu pulang kalau aku perlu bicara dengan beliau, contohnya seperti malam ini saat aku mengutarakan keinginanku untuk dibelikan sebuah baju baru. Sebuah permintaan bodoh yang mungkin tidak akan terkabul. Jarang sekali anak perempuan dari seorang tukang es keliling bisa mendapatkan baju baru. Sekali setahun pun belum tentu akan dibelikan.
Hmm...andai saja ada yang mau bertukar posisi denganku, aku akan bersedia dengan senang hati.
*
Berkat hasil nilaiku yang selalu bagus setiap tahunnya, aku mendapatkan beasiswa penuh selama tiga tahun yang diberikan oleh sebuah SMA favorit di Jakarta. Kesempatan emas seperti ini tentu saja tidak mungkin aku lewatkan apalagi aku memang  terancam tidak bisa melanjutkan sekolah kalau tidak mendapat beasiswa.
Awalnya, aku merasa senang bisa menjadi salah satu dari sekian banyak siswa yang bersekolah di sini. Tapi nyatanya, aku tidak bisa masuk dalam lingkungan pergaulan mereka. Sampai hari ini, gebap 2 tahun 3 bulan aku mengikuti seluruh kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah tetapi belum ada seorang pun yang bisa berteman dekat denganku. Sebenarnya murid-murid di sini tidak sombong. Tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri, sudah menjadi kebiasaan hampir seluruh pelajar di sini terutama yang cewek selalu membhas berbagai barang bermerek yang mereka beli. Entah itu barang fashion terbaru, gadget, sampai tempat-tempat nongkrong high class yang menjadi favorit mereka. Dengan komunitas high class seperti itu, aku sadar diri kalau anak dari seorang tukang cuci keliling tidak bisa bergaul dengan anak direktur, pemilik perusahaan, atau pekerjaan istimewa lainnya.
“Sila..”
Saat aku sedang membaca buku Fisika pada jam istirahat, Raissa datang ke mejaku sambil membawa sebuah undangan yang langsung diberikan padaku saat gadis cantik berwajah indo itu sudah berdiri di depanku. “Ini pesta sweet seventeen aku. Semua teman-teman seangkatan kita akan datang, jadi kamu juga harus datang,” ujar Raissa sambil tersenyum manis sebelum ia pergi menjauhi mejaku untuk membagikan undangan itu pada teman-teman lainnya.
Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak mencap teman-teman sekolahku sebagai orang-orang sombong. Meskipun mereka punya banyak uang, mereka selalu mengundangku dengan tulus untuk datang ke pesta senilai puluhan juta rupiah yang mereka adakan. Sejak tahun pertama sampai tahun terakhir aku sekolah, sudah puluhan undangan yang aku terima tapi tidak ada satu acara pun yang aku penuhi. Alasannya klasik, aku tidak punya baju, transportasi, dan tidak punya teman yang asik untuk berpesta.
“Untung mama membelikan aku baju saat sedang liburan ke Paris. Aku bisa memakai baju itu,” suara Selena membuyarkan lamunanku. Ternyata di pojokan kelas, seluruh cewek yang ada di kelasku sedang berkumpul dan seperti biasa, mereka membahas barang-barang mahal yang baru saja dibelikan oleh orang tua mereka.
Ya, seluruh cewek di kelas, kecuali aku.
*
“Ibu, kumohon belikan aku baju baru,” aku langsung menghampiri ibu pada malam hari, saat ibu baru saja pulang
Ibu melepas penatnya sambil di atas bangku yang sudah tidak layak pakai lagi.
“Sudah lama aku tidak punya baju baru. Bahkan Natal tahun lalu Ibu juga tidak membelikan baju,” aku mengeluarkan undangan beramplop silver yang Raissa berikan padaku lalu memperlihatkannya pada ibu. “Temanku akan berulangtahun. Aku ingin sekali hadir di pesta itu, tapi aku tidak mungkin datang dengan baju-baju kumal yang ada di kamarku. Belikan aku baju baru, Bu,” tanpa sadar, mataku mulai berkaca-kaca.
Ibu mengambil undangan tersebut, “ Akan Ibu belikan.”
“Ibu serius?!” Aku tersenyum lebar mendengar jawaban ibu. Ini benar-benar di luar dugaanku, aku senang sekali! Saking senangnya aku langsung tertawa girang sambil memeluk ibu dan mengucapkan puluhan kata “terima kasih”.
*
Janji ibu untuk membelikan aku baju baru membuat aku jadi lebih bersemangat. aku tidak minder saat sekumpulan cewek-cewek di kelas sedang membuat forum. Bahkan sekali aku ikut dengan mereka. Meskipun tidak terlalu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan tetapi itu cukup menghibur.
Beberapa kali aku juga berkhayal tentang pesta ulang tahun Raissa. Di pesta yang megah itu, aku datang dengan penampilan yang jauh berbeda dengan penampilanku sehari-hari. Kemudian tamu-tamu yang yang ada di pesta terpesona melihatku, dan pada bagian acara dansa banayk cowok yang ingin berdansa denganku. Kalau membayangkannya, aku jadi tertawa sendiri.
Akhirnya hari itu tiba. Satu hari sebelum ulang tahun Raissa, hari di mana ibu akan menepati janjinya untuk membawakan baju baru yang aku inginkan. 
Malam itu aku menunggu ibu dengan sabar. Jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam saat Ibu datang lalu masuk ke dalam rumah. Aku segera berlari menghampiri ibu lalu mengambil kantong plastik yang ibu pegang.
Seketika senyum riangku berubah menjadi ekspresi kecewa. Aku memperhatikan baju berwarna mencolok dengan motif bunga warna warni dan potongan yang norak. Baju ini lebih pantas disebut dengan daster formal, jauh berbeda dengan gaun malam yang aku inginkan.
“Aku nggak mungkin datang ke pesta dengan baju norak seperti ini!” aku melempar baju baru itu ke lantai sambil berteriak. “Apa Ibu nggak bisa memberikan aku baju yang jauh lebih bagus dari daster seperti ini?! Aku malu, Bu! Teman-teman bisa mengejekku! Mereka bisa berpikir kalau  aku adalah pelayan pesta, bukan tamu!” teriakku sambil menangis.
Ibu berjongkok, mengambil baju yang aku lempar lalu melipatnya tanpa berdiri.
“Aku selalu berusaha jadi anak yang baik! Aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolahku, aku juga selalu mendapat peringkat satu di kelas bahkan menjadi siswa terbaik di sekolah! Teman-temanku, yang tidak sepintar aku bisa dengan mudah mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan! Tapi kenapa Ibu nggak bisa memenuhi keinginanku? Aku nggak minta baju baru setiap bulan, Bu! Bahkan juga tidak setiap tahun!” aku berteriak sekencang-kencangnya kemudian berlari masuk ke dalam kamarku.
Malam itu aku habiskan dengan menangis. Sampai keesokan paginya, aku terbangun dengan mata sembap dan memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah, juga pesta Raissa.
*
Seminggu berlalu sejak hari di mana ibu memberikan aku sebuah baju baru. Sejak malam itu, aku tidak pernah bertemu dengan ibu. Sebenarnya aku sengaja menghindar dari ibu. Aku selalu bangun lebih siang supaya tidak bertemu dengan ibu. Malam harinya pun juga seperti itu.  Aku tidur cepat sebelum ibu pulang.
Pesta ulang tahun Raissa sendiri menajdi topik hangat yang selama satu minggu ini menjadi bahan pembicaraan anak-anak di sekolah. Dari obrolan yang aku dengar, Raissa menghabiskan sekitar seratus juta rupiah untuk pesta ulang tahunnya. Mulai dari menyewa ballroom di hotel berbintang lima, sekaligus katering yang disediakan oleh hotel tersebut yang tentunya dengan koki-koki berkualitas tinggi dengan makanan ala hollywood. Belum lagi gaun malam warna brokenwhite yang dibeli langsung dari Milan sebagai hadiah ulang tahun dari ayahnya.
Sekarang aku benar-benar tidak menyesali keputusanku untuk tidak datang ke acara itu. Kalau aku datang dengan ‘daster formal’ pemberian ibu, aku hanya akan menjadi seorang gembel yang bisa masuk ke dalam hotel berbintang. Memalukan.
*
”Bu, beli esnya ya satu,” suara nyaring seorang anak kecil mengalihkan perhatianku yang siang itu sedang berjalan menuju rumah sepulang sekolah.
Aku cukup terkejut saat melihat lawan bicara anak tersebut. Seorang wanita setengah baya yang tampak lelah dengan baju lusuh dan kulit yang menggosong akibat paparan sinar matahari mendorong gerobak es yang beratnya tidak seringan yang terlihat oleh mata.
Wanita itu adalah ibuku.
Setelah selesai membuat pesanan anak kecil tersebut, ibu segera mendorong gerobak esnya menuju pangkalan selanjutnya di Sekolah Dasar yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ini pertama kalinya aku melihat ibu bekerja, mendorong gerobak es dengan semangatnya yang tidak pernah luntur oleh paparan sinar matahari yang selalu dia dapatkan setiap harinya.
Sebelum ibu meninggalkan pangkalannya lebih jauh, au membuntuti ibu dari jauh secara diam-diam. Aku seakan bisa mendengar hembusan napas ibu  yang terputus-putus, namun ibu tetap semangat mendorong gerobak esnya di  tengah jalan raya yang cukup ramai. Saat jalanan menanjak  ibu harus mendorong gerobak dengan sekuat tenaga. Bisa kubayangkan, aku yang hanya berjalan biasa saja kelelahan harus berjalan menanjak seperti ini, apalagi ibu yang harus mendorong beban yang lumayan berat.
Meski begitu, seolah tidak merasa lelah sedikit pun, ibu tetap melanjutkan pekerjaannya untuk menjajakan dagangannya supaya habis terjual.
Sebenarnya aku ingin segera menghampiri ibu lalu memeluknya, tapi entak kenapa kakiku terasa berat untuk melangkah mendekati ibu. Aku malah menyetop sebuah angkot yang akan membawaku kembali pulang ke rumah.
*
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku yang malam itu sedang belajar sama sekali tidak konsen dengan materi yang sedang aku baca. Aku terus memikirkan ibu, cemas kenapa sampai jam segini ibu belum juga pulang.
Kalau mengingat apa yang kulihat tadi siang, aku benar-benar menyesal. Aku terus memaki diri sendiri, merasa bersalah karena tidak bisa menjadi seorang anak yang baik.
Selang beberapa menit, tiba-tiba mataku tertuju pada baju terusan berwarna mencolok dengan motif bunga warna-warni yang terlipat rapih di atas bangku. Aku langsung terbayang kejadian satu minggu lalu saat ibu memberikan baju itu padaku tapi aku malah melemparnya lalu membentak ibu.
Aku harus mencari Ibu! Ujarku dalam hati. Tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari ke luar dari rumah. Aku terus melangkah, padahal aku sendiri tidak tahu harus mencari ibu ke mana. Semua ekspresi wajah ibu baik saat beliau tersenyum, tertawa, sedih, kecewa, marah, terbayang olehku.
“Ibuuuuuuuuuuu!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya sambil menangis.
Satu jam berlalu, tetapi aku belum menemukan ibu. Aku memutuskan untuk berjalan pulang ke rumah dengan kepala tertunduk dan mata bengkak.
Jagalah Ibumu dengan baik. Buat Ibu bahagia dan merasa bangga padamu. Ayah percayakan itu padamu.
Kalimat yang ayah ucapkan sebelum ayah meninggal itu samar-samar terdengar di telingaku, seolah ayah ada disampingku untuk membisikan kembali kalimat itu.
“Maafkan aku, Ayah,”  ucapku dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar.
Begitu kakiku melangkah memasuki ujung jalan, aku menegakkan kepalaku dan melihat ibu sedang mendorong gerobak es beberapa meter di depanku.
Aku mengucek mata berkali-kali untuk memastikan bahwa yang aku lihat adalah kenyataan. Yang aku lihat adalah Ibuku yang baru saja pulang berjualan.
“Sila? Sedang apa kamu malam-malam begini? Biasanya kamu sudah tidur?” tanya ibu yang kini sudah berdiri tepat di depanku dengan wajah yang penuh keringat. Meski begitu, tidak ada ekspresi lelah yang ibu tunjukkan. Yang ada hanyalah ekspresi yang menggambarkan betapa bersyukur dan semangatnya ibu dalam menjalani kehidupan.
Aku memeluk Ibu dengan erat lalu menangis lega dalam pelukannya. “Maafkan aku Ibu,” bisikku.
*
Sabtu pagi, aku dan ibu berkunjung ke makam ayah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Ibu membelikan seikat bungan mawar merah lalu menancapkan tangkai mawar itu di dekat batu nisan ayah.
Ayahku adalah pria yang sangat beruntung , Ayah memiliki seorang pendamping hidup yang begitu setia  dan hebat, yaitu ibuku!
Hari itu, Ibu memutuskan untuk libur berdagang es karena hampir dua minggu belakangan ini ibu selalu bekerja keras bahkan di hari Sabtu dan Minggu. Tapi hari ini, aku menghabiskan waktu berdua bersama ibu ke makam ayah dengan memakai daster formal pemberian Ibu.
“Jangan seperti Ibu. Ibu tidak sekolah jadi tidak pintar. Ibu terus berdoa agar kamu bisa berjodoh dengan laki-laki yag setia, baik hati dan cerdas,” kata ibu sambil menelusuri jalan. “Belajarlah yang rajin, pertahankan prestasi yang sudah kamu dapatkan supaya nanti setelah dewasa, kamu tidak perlu mengalami hidup seperti sekarang. Kamu harus bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih baik buat anak-anakmu. Jangan hidup seperti Ibu,” lanjut  Ibu sambil tersenyum.
Sepanjang hari  Sabtu itu aku habiskan hanya berdua dengan ibu. Untuk pertama kalinya Ibu mentraktir aku makan di sebuah restoran sederhana dan membelikan aku dress warna putih yang sangat cantik. Meski aku terus-terusan menolak, ibu tetap membelikannya. Kata ibu, inilah hasil kerja sepanjang hari yang telah ibu lakukan, sekaligus sebagai hadiah karena aku telah menjadi anak yang berprestasi.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar